Minggu, 04 September 2011

Si Kecil "Mercon" yang Berefek Besar

Bahan peledak kimia adalah suatu rakitan yang terdiri atas bahan-bahan berbentuk padat atau cair atau campuran keduanya yang apabila terkena aksi misalnya benturan, panas, dan gesekan dapat mengakibatkan reaksi berkecepatan tinggi disertai terbentuknya gas-gas dan menimbulkan efek panas serta tekanan yang sangat tinggi. Bahan peledak kimia dibedakan menjadi dua macam, yaitu low explosive (daya ledak rendah) dan high explosive (daya ledak tinggi).
Bahan peledak low explosive adalah bahan peledak berdaya ledak rendah yang mempunyai kecepatan detonasi (velocity of detonation) antara 400 dan 800 meter per detik. Sementara bahan peledak high explosive mempunyai kecepatan detonasi antara 1.000 dan 8.500 meter per detik. Bahan peledak low explosive ini sering disebut propelan (pendorong) yang banyak digunakan sebagai pada peluru dan roket.
Petasan yang juga dikenal sebagai Mercon adalah peledak berupa bubuk yang dikemas dalam beberapa lapis kertas, biasanya bersumbu, digunakan untuk memeriahkan berbagai peristiwa. Benda ini berdaya ledak rendah atau low explosive. Bubuk yang digunakan sebagai isi petasan merupakan bahan peledak kimia yang membuatnya dapat meledak pada kondisi tertentu. Petasan merupakan suatu bahan peledak kimia. Petasan ini termasuk bahan peledak kimia yang berdaya ledak rendah atau low explosive. Di antara bahan peledak low explosive yang dikenal adalah mesiu (black powder atau gun powder) dan smokeless powder. Bagi sebagian masyarakat Indonesia, mesiu tersebut banyak digunakan sebagai pembuat petasan. 

Komposisi dalam bahan peledak berdaya rendah ini dapat berupa :
Ø  Campuran antara potasium nitrat (KNO3), charcoal, dan belerang;
Ø  Campuran antara sodium nitrat (NaNO3), charcoal, dan belerang;
Ø  Campuran antara potasium nitrat dan charcoal (tanpa belerang);
Ø Pyrodex, merupakan campuran antara potasium nitrat, potasium perklorat (KClO4), charcoal, belerang, cyanoguanidin, sodium benzoat, dan dekstrin.
Walaupun bentuk peledak ini (petasan) relative kecil namun memiliki pengaruh yang sangat besar. Di Indonesia contohnya banyak kejadian yang menimbulkan dampak negative dari penggunaan petasan ini. Sebagian besar orang yang memainkan petasan ini adalah anak-anak dan membahayakan mereka. 
Contohnya saja akibat dari main petasan itu membuat tangannya terluka dan tidak tanggung-tanggung hingga harus diamputasi. Selain itu lemparan petasan yang akhirnya timbul ledakan dapat menimbulkan kebakaran apabila diledakan d tempat tertentu seperti tidak sengaja terlempar ke tempat yang berdekatan dengan bahan bakar. Selain membahayakan diri sendiri juga dapat merugikan orang lain. Sekarang ini aparat kepolisian telah menghimbau atas larangan membeli dan menjual petasan dan berusaha untuk menanggulangi pemakaian petasan. Apalagi di setiap bulan Ramadhan yang selalu dihiasi dengan penggunaan petasan oleh sebagian masyarakat. Namun tetap saja sebagian orang menghiraukannya.

Minggu, 17 Juli 2011

Energi Nuklir

Makin meledaknya populasi manusia, terutama di Indonesia, membuat kebutuhan akan energi makin meningkat. Salah satunya adalah energi listrik. Pemerintah kemudian mengupayakan untuk menambah pasokan listrik nasional. Namun upaya yang dilakukan masih menggunakan cara lama, yaitu dengan mengolah bahan bakar fosil. Hal ini tentu dapat menimbulkan masalah. Bahan bakar fosil adalah salah satu bentuk energi yang tidak dapat diperbarui. Sehingga apabila terus dieksploitasi tentu akan membuat semakin terbatasnya cadangan bahan bakar fosil. Untuk itu, perlu dikembangkan suatu sumber energi baru. Upaya penemuan sumber energi terbarukan ini bahkan sudah menjadi “trending topic” di negara-negara lain. Salah satu sumber energi terbarukan yang banyak menjadi wacana adalah sumber energi nuklir dan panas bumi.
Kedua sumber energi ini sudah lama menjadi wacana. Namun pada praktek pelaksanaannya pemanfaatan energi nuklir jauh lebih banyak menuai kontroversi. Salah satu bentuk kontra masyarakat dapat dilihat dari reaksi Warga Balong, Jepara, Jawa Tengah. Mereka menolak keras proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di desa mereka. Penolakan ini dengan alasan dampak yang dapat ditimbulkan bila terjadi kesalahan dalam proyek PLTN. Bencana yang baru- baru ini terjadi di Jepang pun turut menambah ketakutan masyarakat akan penggunaan teknologi nuklir. Gempa yang terjadi di Jepang pada tanggal 11 Maret lalu hanya berkekuatan 8,9 skala Richter. Namun mampu membuat kekhawatiran yang begitu besar bagi warga dunia karena mampu mengakibatkan meledaknya reaktor nuklir unit 1 di Fukushima, Jepang. Kekuatan gempa yang menempati urutan ketujuh gempa terbesar di dunia ini berada di bawah kekuatan gempa yang pernah melanda Sumatra pada tanggal 26 Desember 2004. Gempa Sumatra yang berkekuatan 9,1 skala ritcher menempati urutan ketiga gempa terbesar di dunia. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian pemerintah untuk meninjau kembali rencana pengembangan PLTN di Indonesia yang mempunyai slogan”Nuklir sebagai energi baruan 2025”.
Bila dilihat, kondisi alam Indonesia memang jauh lebih banyak bergejolak dibandingkan kondisi alam Jepang. Apabila ingin tetap mempertahankan pembangunan PLTN, Indonesia akan mendapat PR besar. Indonesia harus mempunyai strategi-strategi pengaman khusus yang lebih baik dari Jepang untuk dapat meminimalisir dampak yang lebih buruk yang kelak dapat muncul bila terjadi gejala alam semacam gempa bumi ini. Namun ketika kita menilik kembali tingkat kemajuan teknologi kedua negara, sepertinya masih jauh dari kata “Bisa”.
Dibandingkan sumber energi nuklir, pemakaian sumber energi panas bumi sebenarnya jauh lebih berpotensi bila dilaksanakan di Indonesia. Energi panas bumi adalah energi yang diekstrasi dari panas yang tersimpan di dalam bumi. Bila dibandingkan negara lain, Indonesia merupakan negara yang memiliki energi panas bumi terbesar. Sumber energi panas bumi di Indonesia mencapai 40% dari total energi panas bumi dunia. Melihat fakta ini, seharusnya Indonesia mampu menjadi negara produsen panas bumi terbesar di dunia. Namun kenyataannya Indonesia masih belum mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki secara maksimal. Banyak Wilayah kerja pertambangan atau WKP energi panas bumi di beberapa daerah terbengkalai dan kurang diminati investor. Seharusnya ini menjadi perhatian pemerintah. Namun kenyataannya pemerintah terlalu sibuk dengan proyek energi nuklirnya yang masih sangat controversial itu. Akibatnya Indonesia baru dapat memanfaatkan potensinya sebesar 4,2%.
Pemakaian energi panas bumi bahkan memiliki nilai lebih bila dibandingkan energi nuklir dan energi lain. Energi panas bumi jauh lebih ramah lingkungan karena emisinya tidak mengandung polutan kimiawi atau limbah, sehingga mampu mendukung upaya untuk mengurangi pemanasan global. Hal ini tentu berbeda sekali dengan energi nuklir. Selain menghasilkan polutan, limbah energi nuklir seperti plutonium hanya bisa meluruh setengah dari daya radioaktif total dalam kurun waktu 24.000 tahun. Artinya dibutuhkan waktu 24.000 tahun untuk dapat mengurangi sifat radioaktif limbahnya sebanyak 50%. Padahal, di Bumi tidak pernah dijumpai bangunan yang tetap mampu berdiri kokoh dalam kurun waktu 24.000 tahun. Lalu akan disimpan dimana limbah radioaktif tersebut?. Kemudian kelebihan lain energi panas bumi adalah dapat terbarukan karena sumber panas yang berada dalam bumi tidak terbatas, tidak seperti bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui. Energi panas bumi atau disebut juga “energi hijau” mampu menghemat anggaran negara. Anggaran negara untuk konsumsi bahan bakar fosil atau upaya pemeliharaan PLTN bisa dipangkas banyak. Energi panas bumi mampu menyediakan pasokan listrik yang lebih andal, stabil dan tidak memakan banyak tempat.